Masjid Jamik Pangkalpinang Warisan Cagar Budaya

IKON WISATA

- Penulis

Senin, 1 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wisata Indonesia | Salah satu ikon wisata religi yang sekaligus sebagai cagar budaya di Kota Pangkalpinang adalah Masjid Jamik. Masjid ini merupakan masjid tertua sekaligus terbesar di Kota Pangkalpinang.

Masjid yang terletak di Jalan Masjid Jamik Kota Pangkalpinang dibangun  pada tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertempatan dengan 18 Desember 1936 H hal ini dibuktikan dari tulisan di meja putih terbuat dari marmer yang ada di sisi barat pekarangan depan masjid.

Masjid ini memiliki luas sekitar 900 meter persegi dan dapat menampung jamaah sekitar 2000 orang serta dibangun di atas lahan seluas 5.662 meter persegi. Luasnya area masjid ini menjadikan masjid ini kerap dikunjungi jamaah untuk beribadah.

Salah satu keunikan masjid ini adalah tangga depan yang berbentuk setengah lingkaran dengan atapnya dihiasi oleh tiang penyangga ukuran kecil  berjumlah 5 tiang, ini diartikan sebagai Rukun Islam dan antara tembok depan dengan atapnya dihiasi oleh tiang penyangga kecil sebanyak 6 buah 3 sebelah kanan dan 3 sebelah kiri dapat diartikan Rukun Iman.

Memiliki empat tiang utama sesuai jumlah Khalifaturrasyidin, lima pintu masuk 3 di depan dan 1 di samping kiri dan 1 kanan serta terdiri atas 3 undakan atau tingkatan dengan satu kubah dan empat menara.

Awal didirikan, masjid ini berupa bangunan semi permanen berdinding kayu dan lantai semen. Masjid tersebut dibangun oleh warga Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tuatunu yang baru masuk ke wilayah Pangkalpinang.

Bangunannya terdiri dari 3 lantai, dengan lantai dasar digunakan sebagai tempat salat dan pengajian, lantai kedua atau tengah digunakan untuk menyimpan kitab kuning, buku-buku agama, tikar dan perlengkapan masjid lainnya. Sedangkan lantai tertinggi difungsikan sebagai menara tempat muazin mengumandangkan azan.

Masjid Jami` Lama dapat menampung kira-kira 600 jamaah. Mengingat bahwa masjid ini merupakan kebanggaan masyarakat Pangkalpinang dan Bangka dan memiliki pengaruh yang luas. Oleh karenanya, maka pada tahun 1932, beberapa tokoh Islam saat itu memunculkan keinginan untuk melakukan perbaikan.

Untuk maksud itulah dibentuk Komite DAM yang diketuai oleh Saleh Hasyim, seorang panitera, dan dibantu oleh beberapa orang pembantu lainnya. Istilah DAM memiliki makna bahwa perluasan area masjid dilakukan dengan memasang cerucuk dan membuat dam di Sungai Rangkui yang pada saat itu terletak tepat di belakang Masjid Jami` Lama.

Perkiraan peneliti, aktivitas perbaikan ini berlangsung hingga tahun, peresmiannya ditandai dengan pembuatan prasasti batu marmer putih yang saat ini masih ada di pekarangan masjid. Batu marmer putih inilah yang diyakini sebagai tanda atau penunjuk berdirinya Masjid jami Pangkalpinang.

Pada pada bulan April 1950, KH. Mas`ud Nur (Penghulu Pangkalpinang) dan H. M Mustafa (sebagai panitera) ditunjuk sebagai Panitia DAM untuk melanjutkan perbaikan yang sempat terhenti lama.  Dengan modal dana sejumlah Rp 5.000, Panitia DAM mampu mengedam sungai dengan batu kuning.

Minggu tanggal 12 November 1950, dilakukanlah musyawarah di Masjid Jami` Lama dengan mengundang alim ulama, tokoh-tokoh masyarakat, pengusaha-pengusaha, dan pejabat pemerintah yang ada di Pangkalpinang untuk merancang kebutuhan biaya merenovasi masjid. Bahkan, Wakil Presiden saat itu, Drs. Moh. Hatta juga ikut menyumbang dana Rp.1.000. Renovasi masjid ini selesai pada tahun 1954 dan baru diresmikan kembali pada tahun 1961.

Ketua panitia, KH. Mas’ud Nur beberapa bulan setelah peresmian masjid, yang tepatnya tanggal 10 November 1961, pada hari Jumat menjelang Subuh yang saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada usia 51 tahun.

Masjid dengan arsitektur unik dengan empat tiang penyanggah yang terdapat di dalam masjid semakin menambah keindahan masjid. Dengan halaman yang cukup luas, pada musim haji, biasanya masjid ini digunakan pejabat untuk melepas para jamaah haji. Keindahan masjid ini semakin lengkap dengan ditempatkannya satu bedug terbesar yang ada di Pangkalpinang. Bedug ini merupakan sumbangan Mantan Kapolda Babel, Brigjen Polisi Erwin TPL Tobing yang saat masih berpangkat Komisaris Besar Polisi. []

 

 

Follow WhatsApp Channel wisatadiindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masjid Kauman Semarang, Saksi Sejarah Umumkan Kemerdekaan RI
Lampung Apa Termasuk Sumatera? Ini Fakta dan Wisata Paling Hits di Lampung
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 08:29 WIB

Masjid Jamik Pangkalpinang Warisan Cagar Budaya

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:49 WIB

Lampung Apa Termasuk Sumatera? Ini Fakta dan Wisata Paling Hits di Lampung

Berita Terbaru

Wisata Religi

Masjid Jamik Pangkalpinang Warisan Cagar Budaya

Senin, 1 Jun 2026 - 08:29 WIB

dok. bantenprov.go.id

Wisata Banten

Destinasi Bahari dan Banten Lama Jadi Magnet Liburan Favorit

Senin, 1 Jun 2026 - 07:21 WIB

dok.bandung.bisnis.com

Wisata Jabar

Libur Iduladha, Wisatawan Jawa Barat Tembus 116 Ribu Orang

Minggu, 31 Mei 2026 - 13:54 WIB

dok. wartaekonomi.co.id

Wisata Bali

Bali Punya Desa Wisata Les yang Raih Gelar Terbaik Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:26 WIB