1
1
Wisata Indonesia | Yogyakarta — Udara pagi yang masih sejuk mengiringi langkah dua dosen Universitas Islam Bogor (UIB) menyusuri jalan sekitar Stasiun Lempuyangan menuju sebuah perempatan dengan lintasan rel kereta di tengah jalan. Jumat pagi, 22 Mei, suasana Kota Yogyakarta terasa hangat dan tenang. Dari tempat penginapan sederhana mereka, keduanya berjalan kaki mencari sebuah warung legendaris yang ditemukan lewat pencarian Google Maps: Pecel Lempuyangan.
Mereka melewati tikungan, pertigaan, hingga perempatan yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan roda dua dan roda empat. Tujuannya sederhana, mencari warung pecel yang konon cukup terkenal di kawasan itu. Namun setelah berjalan cukup jauh, rasa lelah mulai terasa. Mereka pun berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu memutuskan untuk berbalik arah menuju penginapan.
Di tengah perjalanan pulang, keduanya melihat sebuah warung kopi sederhana yang letaknya sedikit masuk ke gang kecil di pinggir jalan. Meski tampak sederhana, warung itu justru ramai dipenuhi pembeli. Ada yang menikmati kopi, susu hangat, nasi pecel, hingga nasi soto.
Ternyata, itulah Warung Pecel Lempuyangan yang mereka cari.
Warung tersebut memang menjadi ikon kuliner di kawasan itu. Mayoritas pengunjungnya adalah laki-laki dewasa dan bapak-bapak yang datang silih berganti sejak pagi. Menu yang tersedia pun cukup sederhana, mulai dari nasi pecel, nasi soto, aneka minuman hangat, hingga gorengan yang sudah tertata rapi di atas baki di setiap meja.
Kuliner legendaris memang bukan hal baru di Yogyakarta. Kota ini seolah memiliki banyak cerita dari setiap sajian makanannya. Sebut saja Gudeg Jogja, Kopi Joss, Sate Klathak, hingga yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial, yaitu Kopi Klotok di kawasan Kaliurang.
Yogyakarta selalu punya cara menghadirkan rasa hangat bagi siapa pun yang pernah singgah di sana. Setiap sudut kotanya seperti menyimpan cerita. Masyarakatnya yang ramah dan suasana kotanya yang bersahaja membuat banyak orang selalu ingin kembali.
Apalagi bagi mereka yang pernah tinggal di Yogya, entah hanya beberapa hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk kuliah dan menimba ilmu. Kota ini dikenal sebagai kota pelajar dengan kampus-kampus ternama seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Amikom Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), hingga Universitas Islam Indonesia (UII) yang telah banyak melahirkan tokoh bangsa dan cendekiawan Muslim. Salah satunya adalah Prof. Mahfud MD yang juga pernah menjadi dosen di Fakultas Hukum UII.
Bagi banyak orang, suasana Yogyakarta seperti tidak pernah berubah. Kenangan lama perlahan muncul kembali setiap kali kaki melangkah di kota ini. Malioboro, Titik Nol Kilometer, Monumen Jogja Kembali (Monjali), hingga suasana malam ditemani segelas Kopi Joss selalu punya tempat tersendiri di hati para perantau dan wisatawan.
Belum lagi perjalanan menuju kawasan Kaliurang. Sepanjang jalan, hamparan suasana pedesaan yang masih asri terasa begitu menenangkan. Hingga akhirnya tiba di sebuah warung yang kini begitu terkenal: Waroeng Kopi Klotok.
Menariknya, meski bernama Kopi Klotok, tidak semua pengunjung datang untuk minum kopi. Banyak yang justru sengaja datang untuk menikmati menu makanan rumahan yang tersaji di atas meja kayu jati panjang. Pengunjung bebas memilih menu sesuai selera, mulai dari sayur lodeh, telur dadar krispi, tempe goreng khas Klotok, hingga aneka lauk sederhana lainnya.
Untuk minumannya tersedia es teh manis, air mineral, dan tentu saja Kopi Klotok yang menjadi menu andalan. Rasanya makin nikmat jika ditemani pisang goreng krispi berbahan pisang kepok matang yang menjadi favorit banyak pengunjung.
Waroeng Kopi Klotok kini begitu familiar bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke Yogyakarta. Media sosial ikut membuat tempat ini semakin viral. Hampir setiap hari warung tersebut tidak pernah sepi dari pengunjung yang ingin sekadar menikmati kopi sambil bersantai menikmati suasana desa.
Ada banyak cerita yang beredar di masyarakat tentang kesuksesan pemilik Waroeng Kopi Klotok. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah kebiasaan sang pemilik yang gemar bersedekah dan menerapkan nilai keikhlasan dalam mengelola usaha. Tarif parkir, misalnya, tidak pernah dipatok secara khusus alias seikhlasnya. Pengunjung juga bebas menikmati suasana warung tanpa dibatasi waktu, selama jam operasional masih buka.
Bahkan saat musim liburan panjang, sebagian pengunjung rela datang sejak selepas subuh demi mendapatkan antrean pertama. Sebab, menjelang siang suasana warung akan semakin padat dan antrean bisa membludak hingga keluar area warung. [ted]