Masjid Luar Batang Jakarta, Warisan Sejarah Islam di Batavia

IKON WISATA

- Penulis

Selasa, 2 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wisata Indonesia | Masjid Luar Batang atau yang secara resmi bernama Masjid Jami Keramat Luar Batang merupakan salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Jakarta. Berlokasi di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, masjid ini menjadi saksi perkembangan Islam di pesisir utara Batavia sejak abad ke-18.

Selain dikenal sebagai pusat wisata religi, Masjid Luar Batang juga menjadi salah satu bangunan cagar budaya penting yang menyimpan jejak perjuangan dakwah ulama besar asal Hadramaut, Yaman, yaitu Habib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al-Aydrus.

Hingga kini, kawasan masjid dan makam Habib Husein tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri.

Kedatangan Habib Husein Al-Aydrus ke Batavia

Habib Husein Al-Aydrus merupakan ulama keturunan Arab-Hadramaut yang dikenal memiliki akhlak mulia dan kehidupan yang sederhana. Sejak kecil beliau hidup sebagai yatim piatu dan diasuh oleh seorang guru sufi yang kemudian membentuk karakter serta keilmuan agamanya.

Sebelum tiba di Nusantara, Habib Husein pernah menjalankan misi dakwah ke wilayah Gujarat, India Utara. Dalam berbagai catatan sejarah disebutkan bahwa beliau membantu masyarakat yang sedang dilanda kekeringan dan wabah penyakit. Karena jasa-jasanya, masyarakat setempat sempat memintanya menjadi pemimpin mereka, namun tawaran tersebut ditolak karena beliau memilih melanjutkan perjalanan dakwah ke Batavia.

Habib Husein tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1736 Masehi. Saat itu Batavia masih berada di bawah kekuasaan VOC Belanda.

masjid luar batang jakarta

Berdirinya Masjid Luar Batang Tahun 1739

Setelah menetap di kawasan Kampung Baru, Penjaringan, Habib Husein mendirikan sebuah surau sederhana yang dikenal dengan nama Langgar Annur.

Bangunan awalnya sangat sederhana dengan luas sekitar 6 meter persegi dan menggunakan arsitektur khas Betawi. Surau kecil inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Masjid Luar Batang.

Menurut catatan sejarah, masjid resmi didirikan pada:

  • 29 April 1739 M
  • Bertepatan dengan 20 Muharram 1152 Hijriah

Tanggal tersebut kemudian dikenal sebagai tonggak berdirinya Masjid Jami Keramat Luar Batang.

Seiring bertambahnya jumlah jamaah, surau kecil itu berkembang menjadi masjid yang lebih besar. Perkembangan tersebut didukung oleh hibah lahan yang diberikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Kisah Tawanan VOC yang Menjadi Murid Pertama Habib Husein

Salah satu kisah yang paling terkenal dari Habib Husein adalah ketika beliau melindungi seorang tawanan VOC yang hendak dihukum mati.

Ketika pasukan Belanda datang untuk menangkap buronan tersebut, Habib Husein membelanya dan bahkan bersedia menggantikan posisi tawanan itu. Sikap keberanian dan kemanusiaan tersebut membuat tentara VOC mengurungkan niatnya.

Tawanan yang merupakan warga keturunan Tionghoa itu kemudian memeluk agama Islam dan menjadi murid pertama Habib Husein. Ia diberi nama Abdul Kadir dan kemudian dikenal sebagai Haji Abdul Kadir bin Adam.

Hingga kini makam Haji Abdul Kadir berada berdampingan dengan makam gurunya di kompleks Masjid Luar Batang.

Asal Usul Nama “Luar Batang”

Nama “Luar Batang” memiliki kisah unik yang hingga kini masih hidup dalam tradisi masyarakat setempat.

Habib Husein wafat pada tanggal 24 Juni 1756 Masehi dalam usia yang diperkirakan belum mencapai 40 tahun. Setelah wafat, jenazah beliau direncanakan dimakamkan di kawasan Tanah Abang.

Namun menurut cerita yang berkembang di masyarakat, setiap kali jenazah dibawa menggunakan keranda atau yang pada masa itu disebut “kurung batang”, jenazah tersebut selalu menghilang dan kembali ke lokasi asalnya di Kampung Baru, Penjaringan.

Peristiwa itu terjadi berulang kali hingga akhirnya masyarakat memutuskan memakamkan Habib Husein di lokasi tempat beliau berdakwah. Sejak saat itu kawasan tersebut dikenal dengan nama Luar Batang, yang kemudian menjadi nama masjid dan wilayah sekitarnya.

Keunikan Arsitektur Masjid Luar Batang

Meski telah mengalami beberapa renovasi, Masjid Luar Batang masih mempertahankan ciri khas arsitektur masjid tradisional Nusantara.

Bangunannya berbentuk persegi dengan sistem soko guru sebagai penyangga utama. Atapnya menggunakan model atap tumpang bertingkat, gaya arsitektur yang umum ditemukan pada masjid-masjid Jawa sebelum abad ke-20.

Tidak seperti masjid modern yang memiliki kubah besar dan menara tinggi, Masjid Luar Batang tampil sederhana dengan bentuk atap menyerupai cungkup bangunan tradisional Jawa.

Di dalam ruang utama terdapat:

  • 12 pilar utama berwarna putih dengan aksen hijau
  • Mihrab dan mimbar bersejarah
  • Serambi masjid tradisional
  • Ruang keputren di sisi utara
  • Pawestren di bagian samping
  • Kentongan kuno
  • Sumur tua peninggalan masa Habib Husein

Menariknya, 12 pilar utama tersebut masih dipertahankan sebagai bagian dari bangunan lama dan menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.

Renovasi dan Status Cagar Budaya

Selama lebih dari dua setengah abad berdiri, Masjid Luar Batang telah mengalami beberapa kali renovasi.

Catatan sejarah menyebutkan renovasi besar pernah dilakukan pada:

  • Tahun 1827 pada masa pemerintahan kolonial Belanda.
  • Masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
  • Berbagai program revitalisasi hingga era modern.

Meski diperkirakan hampir 90 persen bangunan fisiknya telah mengalami perubahan dibandingkan bentuk awal, unsur-unsur sejarah penting tetap dipertahankan.

Karena nilai sejarah dan budayanya yang tinggi, Masjid Luar Batang kemudian ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya DKI Jakarta dan menjadi salah satu situs warisan sejarah Islam yang dilindungi pemerintah.

Destinasi Wisata Religi Bersejarah di Jakarta Utara

Saat ini Masjid Jami Keramat Luar Batang bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata religi paling populer di Jakarta.

Setiap hari, peziarah datang untuk berdoa di makam Habib Husein Al-Aydrus, mempelajari sejarah perkembangan Islam di Batavia, serta menyaksikan langsung peninggalan arsitektur masjid yang telah berdiri sejak tahun 1739.

Dengan usia lebih dari 287 tahun sejak kedatangan Habib Husein di Batavia dan lebih dari 280 tahun sejak berdirinya masjid, Masjid Luar Batang tetap menjadi simbol penting dakwah Islam, warisan budaya, dan identitas sejarah masyarakat pesisir Jakarta.

Follow WhatsApp Channel wisatadiindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masjid Jamik Pangkalpinang Warisan Cagar Budaya
Masjid Kauman Semarang, Saksi Sejarah Umumkan Kemerdekaan RI
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:35 WIB

Masjid Luar Batang Jakarta, Warisan Sejarah Islam di Batavia

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:09 WIB

Masjid Kauman Semarang, Saksi Sejarah Umumkan Kemerdekaan RI

Berita Terbaru

Wisata Jakarta

Masjid Luar Batang Jakarta, Warisan Sejarah Islam di Batavia

Selasa, 2 Jun 2026 - 11:35 WIB