Wisata Kota Tua Jakarta, Paduan Sejarah dan Masa Sekarang

0
15
Kota Tua
Kota Tua

Wisata Kota Tua Jakarta, Paduan Sejarah dan Masa Sekarang

Jika kita merasa jenuh dengan tujuan wisata berupa taman hiburan dan wisata alam, tak ada salahnya kalau sesekali mengunjungi tempat wisata yang sarat akan nilai sejarah. Salah satunya tujuan wisata sejarah yang luar biasa lengkap yaitu di daerah Kota Tua Jakarta.

Walau ada di tengah keramaian jakarta, tempat ini kental akan suasana Jakarta tempo dulu. Kawasan ini selalu ramai pengunjung setiap harinya. Pengunjung ada yang wisatawan lokal maupun mancanegara.

Saat mula didirikan oleh kolonial Belanda, kota renta didesain sebagai sebagai sentra perdagangan di Asia. Kota Jakarta yang zaman itu di sebut Batavia menjadi daerah sentra perdagangan dari maupun keluar negeri lewat jalur pelayaran.

Sejarah Kota Tua Jakarta
Tahun 1526, Fatahillah dikirim oleh Kesultanan Demak menyerang pelabuhan Sunda Kelapa, milik kerajaan Pajajaran. Setelah dikuasai demak, pelabuhan ini diganti nama menjadi Jayakarta.

Tahun 1619, pasukan VOC dibawah komando Jan Pieterszoon Coen, menghancurkan Jayakarta. Setelah dikuasai VOC, tahun 1620 VOC membangun kota gres berjulukan Batavia.

Di tahun 1635, Batavia meluas hingga ke tepi barat Sungai Ciliwung. Batavia dirancang dengan gaya Belanda Eropa dan diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal. Batavia selesai dibangun pada tahun 1650 dan kemudian difungsikan sebagai kantor sentra VOC di Hindia Timur.

Pada era perang dunia II, dikala pendudukan Jepang tahun 1942, Batavia diganti nama menjadi Jakarta dan menjadi ibu kota Indonesia hingga dikala ini.

Tahun 1972, Gubernur Ali Sadikin, mengeluarkan keputusan gubernur menimbulkan Kota Tua sebagai situs warisan. Hal ini dilakukan untuk melindungi sejarah arsitektur di daerah itu.

Lokasi Kota Tua Jakarta
Kota renta jakarta berlokasi di Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat.

Transportasi Menuju Kota Tua Jakarta
Cara terbaik untuk mencapai kota tua, yaitu memakai KRL. Dari arah manapun, seluruh rute KRL mampu mencapai lokasi ini.

Saat membeli tiket KRL, satsiun tujuan yang didaftarkan yaitu Stasiun Jakarta Kota. Dari stasiun ini, jarak ke Taman Fatahilah, yang merupakan spot center kota renta jakarta, hanya berjarak 200 meter saja.

Jam Buka Kota Tua Jakarta
Tidak mirip objek wisata lain, Kota renta jakarta tidak ada batasan jam operasionalnya. Wilayah ini buka 24 jam. Namun demikian untuk objek objek di dalam area kota tua, tentu ada jam bukanya masing masing.

Untuk museum-museum di daerah ini biasanya bukan dari jam 9 pagi hingga jam3 sore.

Tiket Masuk Kota Tua Jakarta
Mengenai biaya masuk ke daerah kota renta jakarta, gratis. Namun demikian, kalau pengunjung berkeinginan masuk ke dalam objek tertentu biasanya dikenakan biaya kercis.

Namun jangan kawatir, karcisnya sangat murah. Berada dalam rentang 2 ribu rupiah hingga 5 ribu rupiah.

Wisata Kota Tua Jakarta
Destinasi wisata di kota renta jakarta sangat fariatif. Tentu saja semua destinasi itu sarat akan sejarah. Namun tidak usah kawatir, walau sejarah tua, tidak akan membosankan kok.

Untuk traveler yang mungkin belum pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta, Berikut 11 destinasti wisata yang mampu kita eksplor keindahannya di Kawasan Wisata Kota Tua Jakarta.

1. Art Street Kota Tua Jakarta
Saat kita berjalan jalan di kota tua, kita akan menemukan suasana unik, yaitu Art Street. Pertunjukanapra seniman jalanan. Dalam bahas lebih umum mungkin kita mengenalnya dnegannama pengamen. Namun kalau di kota lain pengamen hanya menyanyi, di kota renta jakarta pengamen ada banyak sekali macam. Ada pantomin ada pelukis, ada cosplay.

Diantara semuanya, tentu cosplay yang palingmenarik. Pengunjung mampu minta foto bareng dengan banyak sekali gaya. Makara mirip foto bareng patung tokoh sejarah, namun patungnya bsia berganti ganti gaya.

Untuk art street lukisan, semenjak 2 tahun lalu. pemda DKI telah memfasilitasi melalui progam Gallery art street.

2. Museum Fatahillah
Objek Wisata ini tidak mampu dipisahkan lagi dari Kota Tua. Bahkan kalau googleing image kota tua, maka hasilnya 80% nya yaitu foto museum fatahilah. Gedung ini awalnya yaitu balai kota di zaman VOC. Selain balai kota, juga dijadikan sebagai ruang pengadilan hingga penjara bawah tanah.

BACA JUGA:  Wisata Bali – Pantai Kuta

Museum Fatahillah menyimpan sekitar 23.500 koleksi barang bersejarah berupa benda orisinil maupun hanya replika. Di sini kita mampu melihat bermacam-macam koleksi mirip replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Kota Jakarta, furnitur-furnitur antik, koleksi keramik, gerabah, prasasti, dan gugusan benda bersejarah lainnya.

Untuk masuk ke dalam Museum ini, hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp2000 saja.

3. Museum Bank Indonesia
Gedung ini awalnya dibangun sebagai rumah sakit berjulukan Binnen Hospital. Pada tahun 1828 dialihfungsikan menjadi bank dengan nama De Javashe Bank (DJB).

Pada era sehabis kemerdekaan, pada tahun 1953 bank ini dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau yang dikenal dengan nama Bank Indonesia. Setelah pindahnya operasional BI ke gedung gres di tahun tahun 1962, Gedung usang ini dilestarikan menjadi Museum Bank Indonesia yang diresmikan pada 15 Desember 2006.

Ketika memasuki lobi museum, kita akan melihat sebuah beling patri yang sangat indah. Selain itu, di dalamnya juga terdapat 324 beling patri lain yang semuanya dibentuk di Atelier Jan Schouten, Delft, Belanda, pada periode 1922 – 1935.

Di dalamnya juga terdapat ruangan teater dengan kapasitas tempat duduk untuk 40 orang. Teater tersebut memutar film yang berisi seputar sejarah perbankan dan tugas Bank Indonesia.

Tiket masuk ke museum Bank Indonesia hanya 5 ribu saja. Museum ini buka setiap hari, kecuali hari senin dan hari libur Nasional.

4. Stasiun Kereta Api Kota

Selain sebagai stasiun tujuan KRL para pengunjung Kota Tua Jakarta, stasiun kota juga merupakan objek wisata tersendiri. Di stasiun ini pengunjung mampu mencicipi suasana yang berbeda dibandingkan stasiun-staisun pada umumnya. Hal ini sebab bangunannya yang antic dan bergaya tempo dulu.

Stasiun kereta api ini tepatnya dibangun pada tahun 1929 dan diresmikan eksklusif oleh Gubernur Jenderal dikala itu. Bangunan satasiun ini masuk ke dalam cagar budaya yang dilindungi kelsetariannya.

5. Pelabuhan Sunda Kelapa
Tujuan wisata khas lainnya yang mampu dikunjungi selama jalan jalan Kota Tua Jakarta yaitu pelabuhan Sunda Kelapa. Dahulunya, pelabuhan ini menjadi tempat persinggahan kapal-kapal asing. Mulai sekitar masa ke-5 pelabuhan ini dijadikan sebagai pelabuhan untuk aktivitas berdagang.

Meskipun dikala ini kegiatannya tidak seramai ketika pelabuhan Sunda kelapa masih berjaya, namun masih banyak wisatawan yang tiba berkunjung untuk melihat aktivitas Kapal Pinishi, yang merupakan kapal angkut perdagangan di Indonesia. Pelabuhan ini dibuka setiap hari dengan tiket Rp2.500 per orang dan untuk parkir kendaraan beroda empat 4.000 rupiah.

6. Museum Wayang
Gedung ini awalnya berjulukan Hollandsche, yang dibangun di tahun 1640. Museum wayang ini mempunyai bermacam-macam jenis serta bentuk wayang-wayang orisinil Indonesia. Bukan wayang asal Indonesia saja yang jadi koleksi museum ini. Pengunjung juga menemukan wayang-wayang dari negara lainnya mirip Thailand, Kamboja, Tiongkok, hingga Suriname.

Selain melihat wayang, museum ini juga menyajikan pagelaran pertunjukan wayang. Kegiatan rutin pagelaranw ayang bulanan biasanya diselenggarakan pada ahad ke-2 dan ke-3.

7. Museum Bahari
Gedung ini terdiri dari beberapa bangunan dengan tahun pembuatan yang berbeda-beda, dimulai tahun 1652 dan terakhir dibangun tahun 1771.

Sejak awal keberadaannya hingga berakhirnya masa penjajahan Belanda di Indonesia, bangunan ini dipakai sebagai gudang. Tembok keliling bangunan terkesan sangat kokoh. Di bab atas pagar terdapat pos pengintai musuh dan juga terdapat Lorong tempat melaksanakan patroli.

Di tempat ini para pengunjung mampu mempelajari kemaritiman, serta melihat armada pertahanan maritim Indonesia tempo dulu. Koleksi dalam museum Bahari pun sangat bermacam-macam jenisnya. Mulai dari jangkar kapal laut, navigasi perkapalan, meriam, teropong, serta miniatur kapal-kapal nelayan. Selain itu, museum ini juga menampilkan Matra Tentara Nasional Indonesia AL dari masa ke masa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here