Pura Lingsar, Ketika Peci dan Udeng Bersatu Dalam Ikatan Ketupat

0
9
Candi Bentar
Candi Bentar

Pura Lingsar, Ketika Peci dan Udeng Bersatu Dalam Ikatan Ketupat

Pura ini yakni pura terbesar di Lombok. Pura lingsar mengandung campuran antara nilai-nilai agama Hindu dan Islam Wetu Telu. Latar belakang inilah yang menjadi daya tarik utama Pura Lingsar.

Karena menggabungkan nilai 2 agama, daerah pura ini terbagi menjadi dua. Di bab utara terdapat pura Hindu berjulukan Gaduh, sedangkan di bab selatan berdiri pura Wetu Telu berjulukan Kemaliq.

Konon, tempat itu dibangun sebagai lambang persatuan. Karena itulah, tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dalam komplek pura yang luas itu. Umat Hindu dan Suku sasak yang beragama Islam secara rukun merawat pura itu secara bersama-sama.

Siapa saja yang mempercayai dan ingin ”berhubungan” dengan Tuhan di tempat itu, tak pernah dipermasalahkan, sepanjang mentaati hukum di pura tersebut.

Pura ini mempunyai sebuah bak yang sangat menarik yang dibangun untuk menghormati Dewa Wisnu. Di bak ini wisatawan mampu melemparkan koin dengan posisi menghadap ke belakang sambil berdoa memohon sesuatu.

Di dasar bak juga terdapat sumber mata air dimana terdapat ikan tune (sidat) yang hanya akan muncul apabila di panggil dan diberikan telur ayam rebus.

Lokasi Pura Lingsar
Pura Lingsar terletak di Jl. Gora 2, Lingsar, Mataram, Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Rute Menuju Pura Lingsar
Pura Lingsar terletak sekitar 8 Kilometer dari Kota Mataram, dengan usang perjalanan sekitar 20 Menit. Jika mengunjungi pura lingsar dengan kendaraan pribadi, pengunjung mesti menempuh jalur Mataram-Cakranegara-Selagalas-Lingsar.

Jika menentukan memakai angkutan umum, pengunjung harus berganti jurusan sebanyak tiga kali. Yaitu jurusan Ampena-Sweta (Rp. 3.000,-), kemudian jurusan Sweta-Narmada (Rp. 2.000,-), dan jurusan Narmada-Lingsar (Rp. 2.000,-).

Mengingat pendek jarak tempuh, kami sarankan pengunjung memakai Taksi saja. Jauh lebih simpel dan biayanya tidak terlalu mahal.

Jam Buka Pura Lingsar
Untuk mampu menikmati keindahan dan keluhuran tinggalan sejarah di situs pura lingsar, pengunjung umum mampu tiba pada jam 08.30-18.00.

Tiket Pura Lingsar
Untuk memasuki pura lingsar, pengunjung tidak dipungut biaya. Gratis.

Fasilitas Pura Lingsar
Untuk mendukung kegiatan wisata di pura ini, telah disediakan Lahan parkir, toilet, dan toko souvenir.

Hal Menarik di Pura Lingsar
Tempat Suci 2 Sistem Kepercayaan
Pura dengan luas 26 hektar ini betul-betul memperlihatkan harmonisasi antara agama Islam watu telu dan Hindu. Ritual 2 agama tersebut mampu berjalan berdampingan tanpa terjadi gesekan. Di dalam kompleks itu juga terdapat situs Kemaliq yang dihormati masyarakat Sasak, suku orisinil Lombok yang beragama Islam, terutama pengikut pemikiran Wetu Telu.

Kawasan pura ini terbagi menjadi dua yakni di bab utara terdapat pura Hindu berjulukan Gaduh, sedangkan di bab selatan berdiri pura Watu Telu berjulukan Kemaliq.

Di halaman pura lingsar terdapat jalan lurus menuju candi bentar lainnya. Pada sisi kiri jalan terletak bangunan utama pura yang disebut Pura Gaduh. Di sisi kiri pura yakni Kemaliq atau yang dalam bahasa Sasak berarti tempat suci atau keramat.

Di dalam Kemaliq terdapat bak mata air. Bersebelahan dengan Kemaliq yakni pesiraman atau tempat mandi berupa pancuran yang mengalirkan air dari Kemaliq.

Penampilan wajah kompleks bangunan ini secara umum tak jauh berbeda dengan kompleks pura di daerah lainnya. Pada gerbang masuk kompleks pura ini terdapat candi bentar atau gapura kembar berbentuk segitiga siku-siku berwarna khas merah bata.

Perang Topat
Kendati selalu digunakan untuk beribadah dua agama yang berbeda, namun dalam setahun sekali ada upacara yang melibatkan umat kedua agama. Umat Hindu dan Islam menyelenggarakan perayaan bersamaan di pura ini. Upacara itu berjulukan Perang Topat.

Perang topat yakni sebuah program budbahasa yang diadakan di Pura Lingsar, Lombok. Perang ini merupakan simbol perdamaian antara umat Muslim dan Hindu di Lombok. Acara ini dilakukan pada sore hari, setiap bulan purnama ke tujuh dalam penanggalan Suku Sasak.

Sore hari yang merupakan puncak program yang dilakukan sesudah salat ashar. Atau dalam bahasa Sasak “rarak kembang waru” gugur bunga waru. Tanda itu digunakan oleh orang renta dulu untuk mengetahui waktu salat Ashar.

BACA JUGA:  7 Daftar Tempat Wisata di Ubud Bali Terbaru

Ribuan umat Hindu dan Muslim memenuhi Pura Lingsar. Dua komunitas umat beda kepercayaan ini menggelar prosesi upacara Puja Wali, sebagai ungkapan atas puji syukur limpahan berkah dari sang pencipta.

‘Perang’ yang dimaksud dilakukan dengan saling melempar ketupat di antara masyarakat muslim dengan masyarakat hindu. Ketupat yang telah digunakan untuk berperang seringkali diperebutkan. Karena dipercaya mampu membawa kesuburan bagi flora semoga hasil panennya mampu maksimal. Kepercayaan ini sudah berlangsung ratusan tahun, dan masih terus dijalankan

Kolam Ageng
Selain ritual-ritual yang unik, pengunjung juga harus menjelajahi situs ppura lingsar ini. Selain pura Gaduh dan Kemaliq, di Pura Lingsar terdapat bak yang dibangun untuk menghormati Dewa Whisnu. Kolam itu mempunyai luas 6.230 meter persegi. Telaga Ageng mempunyai 9 pancuran yang airnya akan memancar ke dalam kolam.

Air di bak keramat tersebut berasal dari mata air Gunung Rinjani. Ini mengingatkan pada Venice, Eropa sana, bila mau harapannya dikabulkan harus melempar koin ke dalam kolam. Bagi siapa saja yang koinnya mampu masuk ke dalam bak sesudah dilempar, Insya Allah harapannya terkabul. Percaya tak percaya.

Cara ritual melempar uang logam koin ke bak harus sambil membalikan badan. Sambil melempar uang logam, pengunjung mampu memanjatkan keinginan. Karena kebanyakan yang berkunjung yakni belum dewasa muda, maka biasanya permintaannya yakni minta jodoh

Menurut penjaga area situs, beberapa kali air bak dikuras untuk diambil koin yang ada di dalamnya. Setelah bak dikuras, koin-koin yang dilempar oleh pengunjung diambil oleh pengurus pura. Saat proses pengambilan koin sangat cepat sebab tekanan dari dalam tanah cukup besar. Bila tidak segera diambil maka airnya mampu penuh.

Ikan Keramat
Pada salah satu bak yang dikeramatkan, terdapat seekor ikan dengan besar betis orang dewasa. Hewan itu dikenal sebagai ikan moa. Atau dalam bahasa sasak disebut Tune. Semacam belut namun berukuran sebesar betis. Dari segi nama seperti dengan ikan Tuna, tapi 2 spesies ini tidak ada hubungannya.

Ikan tune ini ada ceritanay tersendiri. Konon bagi siapa saja yang mampu melihat ikan yang besarnya sebetis orang remaja itu, maka hidupnya semakin beruntung dan mujur. Untuk memanggil ikan itu biasanya dilakukan dengan memakai umpan telur rebus.

Penjaga pura juga mampu dimintai derma untuk memanggilkan ikan ini. Biasnaya penjaga menggetok-getokkan telor rebus itu ke tembok yang ada di keliling kolam. Lalu telur rebus yang sudah lepas dari kulitnya diremas-remas dan di cemplungkan ke bak sambil diobok-obok.

Bau anyir pun menyeruak menusuk ke hidung. Penjaga akan berusaha terus untuk memanggil ikan tersebut sambil memukul-mukulkan telur ke pinggiran kolam. Namun tidak tiap kali panggilan kaan dipenuhi sang ikan. Ikan ini memang sulit buat keluar dari persembunyiannya. Maka dari itu bagi yang mampu lihat ikan tersebut, itu sebuah keajaiban.

Menghitung Batu
Mitos lain, menghitung kerikil keramat. Disamping bak keberuntungan, ada sebuah tempat berisi batu-batu keramat yang dibungkus kain. Oleh penjaga pura atau guide, pengunjung masing-masing diberi kesempatan menghitung jumlah batu, sebanyak tiga kali.

Jika sesudah menghitung sebanyak 3 kali, hitungan pengunjung selalu sama, maka dipercaya akan menerima keberuntungan.

Objek Wisata Dekat Pura Lingsar
Selain pura lingsar, di sekitar lokasi itu juga terdapat objek sejarah lain. Salah satu yang terdekat yakni Taman Mayura, dengan jarak 7 km. Taman Mayura, yang berarti Taman merak, memperlihatkan kombinasi suasana yang unik. Antara suasana alam yang asri, suasana religius, dan sekaligus bersejarah. Wilayah taman ini terdiri dari dua bagian, yaitu area taman dan area pura.

Taman Narmada yang populer itu juga tidak jauh dari pura lingsar. Hanya berjarak 6 km saja. Taman yang populer sebagai miniatur gunung rinjani dengan segara anakan ini cocok dikunjungi. Selain untuk wisata sejarah juga tersedia akomodasi flying fox melintasi taman.

Dari reviu kami ini mengenai Situs Pura Lingsar. Tentu anda sudah mampu menerka-nerka bagaimana keseruan yang dirasakan bila berwisata ke sana. Makara kalau ada jadwal kunjungan ke Pulau lombok, pastikan lokasi ini masuk dalam daftar lokasi tujuan berlibur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here