Goa Gajah, Situs Kuno Bersejarah di Bali Yang Masih Hidup

0
40
Teduh
Teduh

Goa Gajah, Situs Kuno Bersejarah di Bali Yang Masih Hidup

Mengenai objek wisata, pulau bali memang tidak pernah kehabisan materi cerita. Jika selama ini bali terkenal dengan wisata pantai nya yang cantik, mempesona, ramai dan berombak besar, ternyata ada sisi lain dari wisata Bali. Sisi itu yaitu wisata lokasi sejarah. Walau memang lokasi sejarah untuk wisata di bali tidak sebanyak dan se-kolosal daerah jawa tengah dan Yogya, namun lokasi wisata sejarah di bali tidak kalah menarik.

Faktor utama yang membedakan wisata lokasi bersejarah di bali dengan di jawa yaitu lokasi-lokasi wisata sejarah di bali yaitu situs yang hidup. Situs sejarah yang masih berfungsi mirip waktu situs itu dibentuk 1000 tahun lalu. Ini tentu memperlihatkan pengalaman yang berbeda dengan mengunjungi situs yang telah mati di jawa.

Goa gajah masuk dalam kategori ini. Sebuah situs candi kuno yang didirikan lebih dari 1000 tahun kemudian dan berfungsi sebagai tempat suci umat Hindu dan Budha. Selain masih aktif, ada hal unik dari lokasi ini yang tidak dimiliki situs candi lain.

Jika candi umumnya dibentuk menjulang tinggi ke angkasa, disini situs candi dibentuk masuk ke dalam tebing. Situs ini berbentuk Goa Buatan.

Karena keunikan tersebut, UNESCO pun memasukkan Goa Gajah sebagai salah satu daftar tentatif situs warisan dunia yang harus dilindungi. UNESCO mencatat goa ini sebagai warisan dunia dalam daftar tentatif (menunggu kepastian) pada tanggal 19 Oktober 1995 dalam bidang kebudayaan.

Pura Goa Gajah Ubud merupakan salah satu dari formasi pura tertua yang ada di Pulau Bali. Tak hanya itu, Pura Goa Gajah ini juga layak untuk disebut sebagai salah satu pura dengan desain yang paling fenomenal di Pulau Dewata. Terlebih pura ini juga mempunyai nilai sejarah yang tinggi di Bali.

Dengan bentuk arsitektur yang unik itu, tidak heran jika Pura Goa Gajah Bali pun menjadi destinasi yang berhasil menarik perhatian banyak wisatawan. Para pengunjung mampu menyusuri kompleks pura yang terdiri dari dua area utama.

Area pertama terletak di sebelah utara yang merupakan lokasi eksistensi warisan aliran Siwa. Hal ini dibuktikan dengan eksistensi patung Ganesha serta Trilingga. Area ini juga menjadi lokasi peribadahan untuk umat Hindu yang ada di Pulau Bali.

Sejarah Goa Gajah

Goa ini dikenal sebagai salah satu pura yang mempunyai nilai sejarah sangat tinggi di Pulau Bali. Pura Goa Gajah merupakan lokasi suci untuk umat Hindu dan Budha Bali pada masa pemerintahan Dinasti Warmadewa. Dinasti Warmadewa ini diketahui menguasai Pulau Dewata pada rentang kala 10 sampai kala 11 Masehi.

Dalam kitab lontar Negarakertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M terdapat literatur Lwa Gajah (Lwa atau Lwah/Loh) yang berarti sungai gajah. Sungai yang terletak di depan candi yang kini dikenal dengan Sungai Petanu

Penemuan kembali tempat ini di zaman modern, berawal dari laporan seorang petinggi Hindia Belanda di tahun 1923 yang menyebutkan eksistensi arca Ganesha, Tri lingga serta Hariti. Oleh Pemerintah Hindia Belanda, laporan itu ditindak lanjuti dengan mendatangkan Dr. WF. Stuterhiem yang melaksanakan penelitian di Bali pada tahun 1925.

Penelitian terkait eksistensi Pura Goa Gajah Bali pun berlanjut pada masa sehabis kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1950. Penelitian dilakukan oleh J.L Krijgman bersama dengan staf lainnya dari Dinas Purbakala RI. Mereka melaksanakan proses penelitian serta penggalian pada rentang antara 1954 sampai 1979. Walhasil, mereka berhasil menjumpai eksistensi enam patung berbentuk wanita serta sebuah petirtaan kuno.

Lokasi Goa Gajah
Pura Goa Gajah terletak di Desa Bedulu, kecamatan Blahbatuh kabupaten Gianyar. Jarak nya sekitar 26 Km dari Denpasar atau 40 Km dari Kuta, 5 Km dari Ubud. Lokasi ini gampang dijangkau alasannya yaitu berada di jalur utama Denpasar – Tampaksiring.

Berada di aliran sungai Petanu dengan hamparan sawah yang indah. Lokasi tepatnya yaitu di tepi jurang dan merupakan pertemuan dari sungai kecil di desa tersebut

Rute Menuju Goa Gajah
Apabila ingin liburan ke tempat wisata Goa Gajah Gianyar, pengujung niscaya memerlukan sarana transportasi. Pilihan transportasi terbaik untuk liburan di Bali yaitu memakai kendaraan pribadi, baik motor ataupun mobil.

Saran ini kami berikan alasannya yaitu lokasi ini belum dilalui kendaraan umum yang pribadi dari Denpasar. Kalaupun mampu memakai kendaraan umum, diharapkan pergantian kendaraan berulang ulang, yang khawatir nya akan menciptakan gundah dan sangat merepotkan.

Tiket Masuk Goa Gajah

Pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp 30.000,00 per orang. Ada pula aksesori biaya parkir yang dipatok dengan tarif Rp 5.000,00 untuk kendaraan beroda empat dan Rp 2.000,00 untuk sepeda motor.

Jam Buka Goa Gajah
Loket kunjungan untuk wisatawan di buka setiap hari, mulai buka dari pukul 08.00 – 17.00.

Namun secara faktual lokasi wisata ini buka 24 jam. Hal ini dikarenakan selain lokasi wisata, objek ini yaitu situs yang hidup. Hidup dalam artian masih berfungsi sebagai tempat suci untuk persembahyangan bagi umat Hindu dan Budha.

BACA JUGA:  Tempat Wisata Pantai Pangumbahan

Sesuai fungsi ini, maka sangat mungkin akan ada acara keagamaan yang memang harus dilakukan pada alam hari. Dengan alasan inilah lokasi ini balasannya terbuka 24 jam.

Fasilitas Goa Gajah
Sebagai sebuah destinasi wisata yang cukup terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri, di tempat ini pun telah disediakan beberapa akomodasi pendukung. Fasilitas yang didesain untuk mampu memperlihatkan kenyamanan dan keseruan bagi pengunjung yang berwisata di sini.

Selain tempat parkir dan toilet, di tempat Goa Gajah pun terdapat toko atau kios souvenir dari warga sekitar.

Fasilitas wisata lainnya yaitu di sini juga terdapat layanan berfoto yang unik, yaitu cara berfoto bersama ular piton.

Peninggalan Budaya di Goa Gajah Gianyar
Tinggalan budaya yang terdapat di Situs Pura Goa Gajah dikelompokkan menjadi empat komplek, yaitu:

Di Dalam Goa

Goa dipahatkan pada dinding kerikil padas keras yang menjorok keluar dari dinding kira-kira 5,75 meter. Tampak depan di cuilan atas verbal goa dipenuhi dengan pahatan berupa sulur daun-daunan, kerikil karang, kera, babi, dan raksasa. Mulut goa diperkirakan mempunyai tinggi 2 meter dengan lebar 1 meter.

Pada dinding timur lorong goa terdapat goresan pena baris atas berbunyi kumondan baris bawah berbunyi sahy(w)angsa, dilihat dari bentuknya goresan pena tersebut diperkirakan berasal dari kala ke-11.

Di dalam goa terdapat ceruk yang berjumlah 15 buah ceruk. Beberapa ceruk di dalam goa terdapat arca yaitu arca Ganesha di ceruk ujung barat, arca Trilingga terletak di ceruk ujung barat lorong yang membentang ke timur dan barat, dan fragmen arca terletak di salah satu ceruk di dinding utara.

Komplek Kolam Petirtaan

Kolam Petirtaan terletak 11 meter di sebelah selatan goa, petirtaan berada 3 meter di bawah permukaan tanah pelataran pura. Air pada petirtaan ini berasal dari sumber air yang berada 100 meter di sebelah timur goa.

Kolam petirtaan ini ditemukan dan digali oleh Kriygsman pada tahun 1954, ketika menjabat sebagai kepala kantor Purbakala di Bali. Tinggalan arkeologi pada komplek petirtaan ini terdiri dari 3 buah kolam yang masing-masing dipisahkan oleh tembok yang rendah dan terdapat arca pancuran dada yang berjumlah 6 buah.

Di Depan Goa
Di depan Goa Gajah terdapat beberapa artefak yang mampu diklasifikasikan menjadi dua bagian. Peninggalan yang ada di kiri kanan verbal goa dan ditempatkan pada sebuah pelinggih di sebelah barat goa.

Tinggalan arkeologi yang terdapat di kiri kanan verbal goa yaitu arca Ganesha pancuran, arca penjaga/Dwarapala, dan kerikil silinder. Sedangkan tinggalan arkeologi pada bangunan pelinggih di sebelah barat goa yaitu arca raksasa (arca jongkok), arca Ganesha, dan arca Dewi Hariti.

Komplek Tukad Pangkung

Komplek lembah Tukad Pangkung berlokasi di sebelah selatan kolam Petirtaan ke arah bawah menuju sungai Petanu. Tinggalan arkeologi dilokasi ini memperlihatkan tinggalan untuk pemujaan oleh penganut agama Budha pada masa lalu. Peninggalan yang ditemukan berupa fragmen bangunan yang sebelumnya merupakan cuilan dari pahatan di dinding/tebing, dan dulunya diperkirakan sebagai candi tebing.

Di sebelah barat fragmen bangunan Tukad Pangkung terdapat sebuah ceruk pertapaan. Bangunan ini ditemukan oleh Mr. Conerat Spies pada tahun 1931. Adapun tinggalan arkeologi berupa fragmen di lokasi ini yaitu relief paying susun tiga belas, relief stupa bercabang tiga, dan fragmen arca Budha.

Lokasi Wisata Dekat Goa Gajah
Kawasan sekitar Goa Gajah terdapat banyak destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi, sehingga liburan tidak akan membosankan alasannya yaitu tidak hanya mengunjungi satu objek wisata saja.

Setelah mengunjungi Goa Gajah mampu juga mampir ke objek wisata Pura Samuan Tiga yang berjarak sekita 800 meter ke timur yang berlokasi di Desa Bedulu. Pura Samuan Tiga dikenal mempunyai nilai spiritual tinggi, dan terdapat peninggalan artefak sejarah pada masa lampau.

Bagi pecinta dengan wisata sejarah, hanya berjarak sekitar 950 meter dari Goa Gajah terdapat sebuah museum arkeologi yang berjulukan Museum Gedong Arca. Di museum ini kita mampu melihat benda-benda peninggalan purbakala.

Relief yeh pulu yang berjarak sekitar 1,4 km dari Goa Gajah. Tempat wisata Yeh Pulu merupakan tempat wisata cagar budaya nasional berupa relief bersejarah. Di sini berbagai terdapat pahatan-pahatan di dinding kerikil cadas yang menceritakan kehidupan masyarakat dan kerajaan Bali Kuno.

Situs purbakala lainnya yang bersahabat dengan Goa Gajah yaitu Goa Garba yang beralamat di Dusun Sawegunung, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Tempat wisata yang berjarak sekitar 3,6 km dari Goa Gajah ini merupakan sebuah goa yang berupa pahatan curuk di dinding tepi jurang sungai Pakerisan. Pengunjung juga akan menjumpai bekas telapak kaki insan yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai telapak kaki Kebo Iwa.

Ok, semoga info ini mampu berkhasiat untuk anda dikala berkunjung nanti. Selamat berlibur!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here