Candi Bubrah, Candi Budha di Lingkungan Taman Candi Hindu

0
1
Candi Bubrah
Candi Bubrah

Candi Bubrah yaitu salah satu candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di antara Percandian Rara Jonggrang dan Candi Sewu. Keberadaan candi berbeda agama yang berdampingan memberikan betapa harmoni sosial terjalin indah pada zaman itu.

Dinamakan ‘Bubrah’ alasannya keadaan candi ini rusak semenjak ditemukan, yang dalam bahasa jawa disebut bubrah. Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada periode ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, satu periode dengan Candi Sewu.

Candi Bubrah mempunyai ukuran 12×12 meter. Berdasarkan prasasti Manjusrigrha, candi ini diresmikan pada 792 Masehi. Saat ditemukan masih terdapat beberapa arca Buddha, walaupun tidak utuh lagi. Kegiatan pemugaran dilaksanakan untuk merekonstruksi bangunan candi ini.

Ada legenda mengenai pembangunan Candi Bubrah. Konon ketika Resi Wigoyotoso tiba ke Desa Tempur, dia hendak menciptakan candi. Candinya ini terbentuk sendirinya. Batu-batu berdatangan dengans endirinya dan membentuk sendiri menjadi sebuah candi.

Pada masa modern, kegiatan pemugaran dimulai pada tahun 2016 dan selesai pada 14 Desember tahun 2017.

Lokasi Candi Bubrah
Secara administratif, candi Bubrah terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Candi ini yaitu candi Buddha yang berada di dalam kompleks Taman Wisata Candi Hindu Prambanan. Yaitu di antara Candi Lumbung dan Candi Sewu.

Rute Menuju Candi Bubrah
Untuk menuju lokasi candi Bubrah dari Jogja mengambil arah ke Solo dan sebelum perbatasan Jogja-Klaten, lebih tepatnya di lampu kemudian lintas terakhir ambil arah kiri. Lalu ikuti jalan aspal yang ada ke arah Utara.

Sekitar 500 meter akan menemukan perempatan ambil kiri. Diujung jalannya akan terlihat lokasi yang bersebelahan dengan Candi Prambanan.

Candi Bubrah merupakan satu kesatuan mandala dengan Candi Lumbung dan Candi Sewu yang merupakan bangunan peribadatan Budha. Dari komplek Candi Prambanan, berada di sebelah utara berjarak sekitar satu kilometer.

Sesudah lapangan besar dan kantor BPCB DIY, kemudian ada komplek Candi Lumbung, gres lokasi Candi Bubrah.

Jam Buka Candi Bubrah
Wisata candi Bubrah mempunyai jam operasional yang sama dengan taman wisata candi Prambanan. Yakni buka setiap hari mulai dari pukul 06.00 hingga pukul 17.00 sore.

Tiket Candi Bubrah
Untuk memasuki kompleks Candi, pengunjung diharuskan membayar Rp. 30.000,00. Tiket yang ada sudah termasuk asuransi dan tiket masuk ke Candi Prambanan dan Candi Sewu. Karena Candi Bubrah berada di daerah Candi Prambanan.

Selain kedua candi tersebut, masih ada candi yang letaknya sejalur dengan lokasi mulai dari Candi Lor, Candi Kidul, Candi Lumbung, Candi Sewu, Candi Guna, dan lain sebagainya.

Fasilitas Candi Bubrah
Memasuki area kompleks percandian ini, pengunjung akan disuguhkan pemandangan yang menakjubkan dilengkapi dengan banyak sekali fasilitas. Disini tersedia resto, tempat ibadah, tempat istirahat, lapangan, taman, kios souvenir, dan lain-lain.

Daya Tarik Candi Bubrah
Sejarah Candi Bubrah

Pendirian Candi Bubrah diyakini semasa dengan Candi Sewu dan Candi Lumbung. Ketiganya menjadi satu kesatuan mandala bercorak Budhist. Komplek tempat pemujaan ini dibangun Rakai Panangkaran yang disebut sebagai Syailendra Wangsa Tilaka, atau mutiara keluarga Syailendra.

Rakai Panangkaran yaitu pemimpin dinasti Syailendra yang berpindah agama, dari semula Siwa Hindu. Ia diperintahkan ayahandanya untuk menjadi Budha, dan ia memang jadi seorang Budhist yang amat taat.

Rakai Panangkaran pula yang membangun Candi Kalasan, persembahan untuk Dewi Tara. Selain itu pula dibangun Candi Sari dan Candi Sewu. Namun ketika semua bangunan suci itu paripurna, Rakai Panangkaran sudah wafat.

Peresmian dilakukan penggantinya, Rakai Panaraban. Candi Bubrah merupakan bangunan tunggal menghadap ke timur, sama halnya dengan komplek Candi Prambanan yang juga menghadap ke timur.

Struktur Candi

Bangunan Candi Bubrah tinggi ramping dengan atap stupa menjadi simbol Gunung Meru. Susunan stupa induk merujuk konsep pantheon dalam agama Budha. Satu stupa dikelilingi delapan stupa, kemudian dikelilingi 16 stupa.

Bagian luar badan candi ada relung-relung berisi arca Dhyani Buddha. Relung utara berisi Dhyani Buddha Amogasiddhi menghadap utara. Relung barat Dhyani Buddha Amitabha. Relung selatan berisi arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa. Sedangkan sisi timur relungnya berisi arca Dhyani Buddha Aksobhya.

BACA JUGA:  Taman Nasional Meru Betiri, Surga Bagi yang Jiwa Petualang

Perbedaan di antara arca Dhyani Buddha itu ada salah satunya pada posisi duduk dan tangannya. Candi mempunyai keunikan yang tidak dimiliki candi-candi Buddha lainnya. Antara lain, motif hiasan taman teratai yang mengisi lapik di bawah padmasina pada Dhyani Buddha.

Motif hias juga menghisi bidang lain pada kaki, tubuh, atap, dan pagar langkan. Satu motif hias yang khas Candi ini yaitu hiasan ceplok bunga yang mengisi pagar langkan sisi luar.

Meski sudah tidak lengkap, masih mampu dirunut citra keindahannya pada masa dulu. Motif hiasan ini pula yang sekarang dijadikan motif batik khas Candi Bubrah, dan diproduksi warga sekitar untuk suvenir.

Hiasan menarik lain juga terlihat di jaladwara, yang berfungsi sebagai drainase jalan masuk buang air. Jaladwara digambarkan berbentuk makhluk bergigi taring, mempunyai belalai, bersurai serta bergelung dalam posisi membuka mulut.

Makna Simbolik Candi Bubrah

Secara filosofis simbolik, Candi Bubrah ini mempunyai keunikan yang tidak dimiliki candi manapun dan ada di kitab manapun. Yaitu simbolisasi dua konsep mandala, Vajradhatu Mandala dan Garbhadhatu Mandala.

Konsep ini dalam khasanah Hindu dikenal dengan Lingga dan Yoni, yang melambangkan maskulinitas dan feminimitas. Perlambang kehidupan semesta yang selalu diwarnai dua hal. Konsep Vajradatu diwakili kehadiran arca Dhyani Buddha dari empat arah mata angin.

Sedangkan Garbhadhatu diwakili altar dan relung untuk Tri Ratna. Sebuah penggambaran teratai dengan 16 kelopak perlambang 16 Boddhisattwa utama.

Penyatuan dua konsep mandala di satu bangunan ini menjadikan banyak sekali intrepretasi. Namun diyakini visualisasi konsep itu merupakan perwujudan Yab Yum, yang kuasa dewi yang dianggap wujud Adi Buddha.

Yab Yum berasal dari bahasa Tibet, yang Yab artinya ayah yang agung, sedang Yum ibu yang agung. Dengan kata lain, merekalah orang renta semesta,asal muasal semua kehidupan di dunia.

Sebagai satu kesatuan mandala Buddha, mampu diintretpretasikan tahap ritual keagamaan pada masa kuno. Diawali di Candi Sewu sebagai perlambang konsep Vajradhatu Mandala. Sesudah itu ritual dilanjutkan ke Candi Lumbung yang jadi perlambang konsep Garbhadhatu Mandala.

Upacara akan diakhiri di Candi Bubrah, yang di candi ini melambangkan penyatuan dua komponen semesta.

Penemuan Kembali Dan Rehabilitasi

Sebagai satu mandala dengan komplek Candi Prambanan yang bercorak HIndu, Candi Bubrah mula-mula dikenali dari laporan pada periode 17 ketika FC Lons. Seorang utusan VOC mengunjungi wilayah Keraton Mataram.

Sesudah itu keberadaanya terabaikan, hingga 1807 HC Cornelius, seorang Belanda, menciptakan gambar Candi Sewu dan candi-candi sekitarnya, termasuk Candi Bubrah. Karya Cornelius itu dipublikasikan Raffles pada 1817 di buku History of Java.

Kerusakan besar terjadi sepanjang 1825-1830 ketika kecamuk Perang Jawa. Batu-batu candi dan arca-arca yang jumlahnya sangat banyak, diambil dan dipakai untuk membangun benteng pertahanan.

Pada 1913, Candi Bubrah gres disebut mulai agak terperinci di Rapporten Oudheidkundige Dienst (ROD). Di laporan itu disebutkan Candi ini dalam keadaan runtuh berserakan. Demikianlah semenjak itu hingga 2011, Candi ini dalam keadaan yang kurang lebih sama.

Upaya rintisan pemilahan kerikil dilakukan, dan mengindikasikan candi mampu dipugar dan dikembalikan dalam bentuk yang utuh. Kegiatan pemugaran dimulai pada tahun 2016 dan selesai pada tahun 2017.

Objek Wisata Dekat Candi Bubrah
Wisata klaten bukan hanya candi saja. Klaten juga mempunyai objek wisata alam, salah satunya Sendang Gemuling. Sebuah riam kecil dengan pemandangan alam sekitar yang indah. Selain Instagrammable, pengunjung mampu menikmati pesona alam Klaten yang mengesankan di sekitar Sendang Gemuling.

Bagi yang menyukai wisata selfie di taman bunga, klaten juga mempunyai lokasi untuk ini. Taman Bunga Bono di Klaten mampu menjadi opsi yang menarik. Tempat yang sebelumnya merupakan sawah warga, diubah menjadi taman untuk bermacam-macam jenis bunga penuh warna. Pengunjung mampu menentukan pose mirip apa untuk kegiatan narsis.

Candi Bubrah memang sangat indah, mempunyai sejuta pesona wisata. Bentuk bangunan, ornamen, maupun relief nya, semuanya mempunyai keindahan tersembunyi. Sudah banyak wisatawan berkunjung ke sini, kemudian anda kapan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here